Aliansi Koin

| EXPANDING BLOCKCHAIN TO NEW HORIZONS

Telegram Hadirkan Bot Wallet Untuk Transaksi Kripto

Tidak hanya sebagai aplikasi perpesanan, kini pengguna Telegram juga bisa bertransaksi kripto lewat bot wallet.

Tak hanya sebagai aplikasi perpesanan, pengguna juga bisa bertransaksi kripto lewat bot wallet Telegram, dikembangkan The Open Network (TON). / ALIANSI KOIN

Telegram Hadirkan Bot Wallet Untuk Transaksi Kripto

Siapa menyangka bahwa Telegram yang merupakan aplikasi perpesanan telah menyediakan layanan bot untuk wallet kripto? Dikembangkan oleh The Open Network yang sebelumnya dikenal dengan Telegram Open Network, bot wallet kripto di Telegram kini berfungsi penuh untuk keseluruhan aset kripto.

Awalnya, bot ini hanya memungkinkan pengguna untuk membeli, menjual, dan memperdagangkan Toncoin (TON) di dalam aplikasi Telegram. Mereka telah mengembangkan bot wallet sejak April 2022.

Tim pengembang independen The Open Network mengagas bot dompet untuk menyederhanakan transaksi kripto bagi pengguna Telegram. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang perwakilan dari Yayasan The Open Network dalam sebuah wawancara.

“TON ditujukan untuk jutaan pengguna, dan salah satu tujuan kami adalah membuat penggunaan blockchain tidak lebih rumit daripada menggunakan aplikasi yang biasa digunakan pengguna.”

Selain penyederhanaan proses transaksi kripto, bot wallet juga berfungsi sebagai fiat on-ramp, memungkinkan pengguna untuk membeli token TON bahkan menggunakan kartu kredit mereka lewat aplikasi Telegram. Mata uang fiat yang didukung saat ini untuk membeli dan menjual Toncoin adalah dolar Amerika Serikat, euro, hryvnia Ukraina, rubel Belarusia, dan tenge Kazakstan.

Titik Balik The Open Network Telegram

Pada 2017, Telegram memulai rencana monetisasi untuk aplikasi tersebut karena tidak menggunakan iklan. Telegram Open Network (The Open Network) kemudian didirikan oleh para pendiri Telegram Pavel dan Nikolai Durov pada Januari 2018. Open Network dikembangkan untuk aplikasi terdesentralisasi dan pembayaran alternatif jaringan pemrosesan ke jaringan utama seperti Visa.

Untuk mengumpulkan dana bagi pengembangan TON, Telegram mengadakan penjualan token GRAM yang dapat ditukarkan investor dengan token TON saat diluncurkan. Namun, Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat nantinya akan mengklasifikasikan penjualan token sebagai penawaran sekuritas yang tidak terdaftar. Akibatnya, Telegram memutuskan untuk mengakhiri keterlibatan aktifnya dengan yayasan TON pada tahun 2020.

Pada 11 Juni 2020, Telegram dan SEC mencapai kesepakatan yang menyetujui Telegram untuk mengganti 1,22 miliar dolar AS sebagai biaya penghentian dalam perjanjian pembelian GRAM. Di samping itu, mereka juga membayar denda sejumlah 18,5 juta dolar AS kepada SEC. Telegram juga setuju untuk memberikan pemberitahuan diawal kepada SEC jika perusahaan berencana untuk menjual aset digital apa pun selama tiga tahun ke depan.

Pada 7 Mei 2020, Free TON diluncurkan sebagai usaha mandiri untuk melanjutkan pengembangan Telegram Open Network menggunakan kode yang tersedia secara gratis. Komunitas tersebut kemudian berkembang menjadi lebih dari 30.000 anggota pada Januari 2021. Tim Telegram kemudian mentransfer domain ton.org dan repositori GitHub ke Yayasan TON pada 4 Agustus 2021.

Yayasan TON telah memikul tanggung jawab atas aset kripto (TON) yang mendasari token Telegram. Sebelumnya, pengguna aplikasi juga berkolaborasi dalam upaya penggalangan dana untuk tujuan serupa. Hasilnya, mereka menyumbangkan lebih dari 1 miliar dolar AS bagi pertumbuhan ekosistem TON.


Penulis: Fika Putri
Sumber: Cointelegraph, CoinMarketCap