Aliansi Koin

| EXPANDING BLOCKCHAIN TO NEW HORIZONS

Jaksa Agung New York Larang Kripto Jadi Jaminan Pensiun

Investasi untuk masa tua memang sangat penting untuk seluruh masyarakat di dunia. Kehidupan setelah pensiun harusnya dapat terjamin dan dipersiapkan sebelum masa itu tiba. Investasi sebagai persiapan untuk hal tersebut saat ini sudah banyak jenisnya, termasuk berinvestasi dengan mata uang kripto.

Jaksa Agung New York
Jaksa Agung New York Larang Kripto Jadi Jaminan Pensiun

Namun, Jaksa Agung di New York yang bernama Letitia James, menyerukan larangan untuk berinvestasi dengan kripto sebagai jaminan masa tua atau masa pensiun.

Dalam surat yang ditulis Letitia kepada anggota Kongres di Kejaksaan Agung, Letitia menjelaskan alasan tindakan berinvestasi dengan mata uang kripto harus dilarang. Letitia juga menambahkan bahwa beliau yakin jika kelas aset mata uang kripto tidak memiliki nilai intrinsik.

“Atas nama Rakyat Negara Bagian New York, saya mendesak Kongres untuk memutuskan undang-undang yang merujuk kepada aset digital. Seperti mata uang kripto, koin digital, dan token digital, sebagai aset yang tidak dapat dipergunakan sebagai dana pensiun,”

Letitia James, dalam surat proposal kepada Jaksa Agung New York.

Alasan Jaksa Agung Untuk Tidak Gunakan Kripto sebagai Jaminan Pensiun

Menurut Letitia, meskipun mata uang kripto telah menjadi populer selama beberapa waktu terakhir, mata uang kripto tidak memiliki harga dasar. Hal ini dapat membahayakan para investor. Karena, nilai tanpa dasar tersebut tidak dapat menjamin keamanan finansial para investor di masa tua nanti.

Mata uang kripto pada umumnya dipasarkan sebagai investasi untuk mengharapkan keuntungan dari tindakan orang lain. Oleh sebab itu, kripto tidak memiliki nilai intrinsik dan jaminan kepemilikan. Tidak seperti saham perusahaan besar yang memiliki nilai sendiri dan investasi pada obligasi yang disediakan dari korporasi.

Selain nilai yang tidak berdasar, mata uang kripto terlalu berisiko untuk dijadikan jaminan masa tua karena volatilitas yang tinggi. Nilai aset tidak dapat diprediksi hingga mencapai masa pensiun, peraturan untuk mengatasi volatilitas tersebut belum ada hingga saat ini. Mata uang kripto juga rawan digunakan untuk pencucian uang dan sering digunakan sebagai modus penipuan.

Menurut Jaksa Agung di New York, risiko terbesar penempatan aset kripto sebagai dana pensiun adalah tidak adanya perlindungan yang mumpuni. Perlindungan yang dimaksud harusnya seperti perlindungan dana yang ada dalam sistem keuangan tradisional.

Jaminan masa tua dan masa pensiun tentu saja harus memiliki nilai yang jelas untuk menjamin ketersediaan dananya saat dibutuhkan. Mata uang kripto tidak dapat menjamin hal itu, karena nilainya yang dapat berubah-ubah. 

Bahkan, stablecoin yang nilainya sama dengan mata uang fiat juga tidak dapat menjamin ketersediaannya di masa depan. Dengan maraknya peristiwa keruntuhan perusahaan kripto seperti Luna dan FTX, citra mata uang kripto semakin memburuk di mata pemerintah dan tingkat risiko kepemilikan bagi investor juga semakin tinggi.

Penulis: Dhika Ulvi
Dilansir dari beberapa sumber: DailyHodl dan WCAX