Aliansi Koin

| EXPANDING BLOCKCHAIN TO NEW HORIZONS

Iran Hentikan Pasokan Listrik ke Penambang Resmi Kripto

Mulai 22 Juni 2022, Iran akan hentikan pasokan listrik ke 118 penambang resmi kripto di wilayahnya akibat tingginya permintaan listrik.

Sebagaimana dilansir oleh Bloomberg Law, juru bicara industri listrik Iran, Mostafa Rajabi Mashhadi mengatakan,

“Negara harus bersiap menghadapi kekurangan listrik karena permintaan diproyeksikan melampaui 63.000 megawatt minggu ini.”

Bulan Juni hingga Agustus merupakan musim panas di Iran sehingga permintaan listrik meningkat. Masyarakat banyak membutuhkan listrik sebagai pendingin udara. Permintaan listrik mengalami rekor tertinggi pada Agustus 2020 dengan lebih dari 67.000 megawatt.

Izin Legal Penambangan Kripto

Semenjak tahun 2020 Iran telah memberikan izin legal terhadap lebih dari 1.000 penambang kripto. Iran menawarkannya listrik dengan harga murah dan mengharuskan penambang untuk menjual bitcoin yang ditambang ke bank sentral. Harga listrik murah telah menarik lebih banyak penambang kripto terutama asal dari China, ke negara itu.

Baca juga Staking Ethereum Akan Menghemat 99% Konsumsi Energi

Hasil penelitian dari Elliptic seperti yang dikutip dari Reuters mengungkapkan bahwa  pemberian izin legal penambang kripto merupakan sebuah peluang.

Sebagaimana yang telah diketahui, ekonomi Iran terpuruk akibat sanksi embargo perdagangan. Sanksi ini dikeluarkan Amerika dan negara sekutunya karena Iran dituduh mengembangkan senjata nuklir. Hal itu membuat Iran kekurangan uang tunai, tetapi dengan surplus minyak dan gas alam mereka dapat memperbaiki ekonominya. Hingga saat ini kesepakatan nuklir belum ada antara Iran dan Amerika.

Penambang kripto Iran membutuhkan sekitar 10 juta barel minyak mentah setiap tahun, sekitar 4% dari total ekspor minyak Iran pada tahun 2020. Penambang kripto di Iran membayar langsung dalam Bitcoin, untuk menghindari sanksi pembayaran oleh Amerika atas lembaga keuangan Iran.

Mei tahun 2020, 4,5% dari semua penambangan Bitcoin dunia terjadi di Iran. Sedangkan pada Januari tahun 2021 turun menjadi 0,12% menurut Pusat Keuangan Alternatif Cambridge (CCAF). Saat ini Amerika Serikat dan China masih menjadi 2 negara penambang terbanyak di dunia.

Dikutip dari beberapa sumber:
www.news.bloomberglaw.com
www.theblock.co
www.reuters.com