Aliansi Koin

| EXPANDING BLOCKCHAIN TO NEW HORIZONS

DPC Irlandia Beri Denda Pada Meta Akibat Kebocoran Data

Penggunaan data pribadi untuk mendaftarkan diri ke dalam aplikasi ataupun platform media sosial kini menjadi kontroversial. Facebook – Meta, yang merupakan platform media sosial paling terkenal dalam beberapa dekade, sering sekali mengalami kebocoran data karena menggunakan sistem pengumpulan data terpusat atau centralized

DPC Irlandia
DPC Irlandia Beri Denda Pada Meta Akibat Kebocoran Data

Di Irlandia, Data Protection Commision (DPC) di Irlandia telah mengumumkan bahwa mereka akan beri Facebook – Meta sejumlah denda sebesar 265 juta euro. Denda tersebut diberikan karena Meta telah melanggar Peraturan Perlindungan Data Umum (General Data Protection Regulation) di Uni Eropa. 

Pengumuman tersebut dirilis secara khusus kemarin (28/11). DPC menyatakan denda yang diberikan kepada Meta merupakan bentuk kekecewaan Irlandia. Facebook gagal melindungi pengguna dari penyalahgunaan data.

Latar Belakang Penyelidikan DPC Irlandia

Penyelidikan yang dilakukan Irlandia terhadap Facebook – Meta sudah berjalan 1 tahun, dengan membuahkan hasil laporan yang dirilis kemarin. Bahkan, pelanggaran penggunaan data tersebut sudah terjadi sejak tahun 2019. 

Pelanggaran data yang terjadi pertama kali di akhir tahun 2019 terdeteksi karena laporan Tech Cruch. Mereka menyatakan bahwa ratusan juta nomor telepon pengguna Facebook telah tercantum dalam database online yang dapat diakses publik.

Data yang meluncur ke publik tersebut akhirnya memang dihapus oleh pemilik host website, namun kenyataan bahwa data pengguna Facebook telah bocor tidak dapat diperbaiki. DPC mulai menyelidiki kebocoran data ini sejak April 2021. Karena saat itu, Meta sendiri memberikan pernyataan terkait “Fakta Laporan Berita Tentang Data Facebook”.

Pernyataan tersebut memberikan klaim bahwa hacker menggunakan alat impor kontak untuk mengirim spam ke server Meta dengan menggunakan nomor telepon. Hal tersebut berakhir dengan diperlihatkannya kontak yang terkait dengan Facebook dan nomor telepon hacker tersebut.

Setiap kali hacker mendapat respon dari impor kontak yang dilakukan, mereka akan mendapatkan detail pribadi pengguna Facebook lewat penyesuaian nomor telepon. Dengan banyaknya respon dari sistem impor kontak Facebook kepada hacker, data pengguna mulai dikumpulkan untuk kemudian dibocorkan kepada publik.

Meta sudah mengatasi masalah kebocoran impor kontak tersebut. Namun, DPC menyatakan bahwa kesalahan ini harus dikenakan denda sesuai hukum yang ada di Irlandia. Pasal 25 ayat 1 dan pasal 25 ayat 2 hukum GDPR menyatakan bahwa pelanggaran data ini akan dikenakan sanksi denda sebesar 265 juta euro.

Solusi Kebocoran Data Pribadi Pengguna Platform Sosial Media

Penggunaan data pribadi secara ilegal belakangan ini sudah menjadi hal yang tidak mengejutkan lagi. Bahkan di Indonesia sendiri, penggunaan data pribadi orang lain kerap sekali digunakan dalam pengajuan pinjaman online oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Perusahaan blockchain dan web3 kini telah berusaha mengatasi masalah kebocoran data seperti ini. Dengan membuat proses login alternatif, kemudian mendistribusikan pengumpulan data yang diperlukan dengan cara yang sangat terdesentralisasi.

Salah satu cara yang telah ada yaitu, dengan membuat aplikasi atau platform media sosial yang memberlakukan pendaftaran tanpa data pribadi. Namun, cukup dengan memasukkan alamat dompet blockchain mereka. 

Bitclout dan Blockster adalah contoh platform yang menggunakan sistem pendaftaran tersebut. Pengguna dapat mendaftar dengan memasukkan alamat Ethereum dan tidak perlu memasukkan data lainnya seperti alamat email ataupun nomor telepon.

Pengembang Ethereum juga telah menawarkan proposal yang disebut “EIP-436“. Sistem tersebut berfungsi untuk menjadikan proses login dengan alamat dompet Ethereum merupakan hal yang dapat dilakukan secara default, seperti login dengan GMail ataupun Facebook.

Hal ini tentu akan sangat membantu dalam mengamankan data konsumen. Pengguna aplikasi media sosial dapat menggunakan aplikasinya dengan bebas, tanpa takut identitas pribadinya dibongkar atau bahkan dijual kepada publik.

Penulis: Dhika Ulvi
Dilansir dari beberapa sumber: Cointelegraph dan Bitcoinfg